Pelayanan kok gitu ....

Pelayanan bukanlah persoalan aku dan kamu, tetapi aku, kamu dan Tuhan. Kolose 3:23 memberikan dasar yang kokoh tentang pola pelayanan yang berkenan: "Apa pun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia". Pelayanan seringkali hanya ingin memberikan kepuasan bagi manusianya, memuaskan aku dan kamu, kami atau kita. Pelayanan sudah menjauh dari hakikat yang sesungguhnya, yaitu menyenangkan hati Tuhan dan menemukan kehendak Tuhan dalam pelayanan. Bagi orang Kristen yang hanya terpatok pada keinginan untuk memuaskan sesama atau menyenangkan dirinya, maka adalah baik dan perlu ketika kembali mempertanyakan motivasi pelayanan itu sendiri. Untuk memuaskan seseorang atau kelompok saat diri kita melayani, akan menjatuhkan diri kita sendiri bahkan tidak mengajarkan hakikat pelayanan yang sesungguhnya kepada orang yang kita layani.

Aku puas, aku senang, aku bahagia. Mungkin hal-hal inilah yang menjadikan pelayanan bukanlah pelayanan tapi pelayanan hanyalah sebatas kegiatan atau sebuah pertunjukan di antara manusia. Bahkan, tidak jarang kita jumpai atau dengar respons pelayan-pelayan yang mengatakan "aku kurang puas dengan kesuksesan acara ini". Apakah kita sedang mengukur kesuksesan sebuah pelayanan itu dalam kerangka manusiawi atau mau menyelaraskan dengan keinginan Tuhan? Apakah kita sedang terjebak di dalam ambisi diri, egosentrisme, atau kesombongan diri? Hanya mengingatkan, jangan sampai kita mencuri kemuliaan Tuhan di tengah pelayanan kita. Karena yang pantas dan layak dimuliakan dalam pelayanan adalah Kristus.

Tidak heran juga ketika kita banyak mengamati dan memperhatikan para pelayan tidak semakin dewasa, malah justru semakin sensitif, tidak ramah, bahkan yang ada tinggi hati. Pernahkah kita berpikir bahwa justru dalam pelayanan kita mengalami pertumbuhan yang semakin matang dan dewasa? Bukan sebaliknya menurun dalam sikap-sikap kedewasaan. Sikap marah, ngambekan, berbicara ceplas-ceplos tanpa memahami orang yang diajak berbicara, bahkan terlalu memperbanyakan prosedur yang akhirnya banyak menghambat pelayanan untuk dikerjakan dengan cepat? Pelayanan bukan menghasilkan damai sejahtera di hati para pelayan, melainkan hanya berbuahkan keluh kesah tanpa bisa bersyukur. 

Pelayanan bak Aquarium. Istilah ini memudahkan kita untuk memahami bahwa aquarium itu didesign sang pemiliknya untuk dibuat sebaik dan seindah mungkin. Batu karang diletakan, warna demi warna menghiasi dinding-dinding aquarium, pipa air dipasangan dengan perhitungan yang matang supaya aliran oksigen pun tetap dirasakan dengan baik. Ketika design itu selesai, maka ikan-ikan yang dipilih pun dimasukkan ke dalamnya. Sang pemilik akan memperhatikan dan mengamati dengan baik apa yang terjadi di dalam aquarium tersebut. Siapa gerangan yang menyaksikan kehidupan yang ada di dalam aquarium? Bukan ikan-ikan yang di dalam, melainkan Sang Pemilik. Pelayanan dan para pelayan bak berada dalam aquarium tersebut. Sang Pemilik aquarium itu adalah Kristus, Dialah yang menyaksikan setiap pergerakan dan hati kita. Masih kita ingin mencuri kemuliaan Kristus? Masihkah kita memiliki motivasi untuk menunjukkan kehebatan diri kita dibandingkan menghadirkan kehendak dan karya Kristus dalam pelayanan?

Sang Pemilik (baca: Kristus) aquuarium (baca: gereja, pelayanan) telah membuat semuanya baik. Namun, ternyata kita sendiri yang seringkali mengotorinya dengan motivasi dan perilaku kita yang tidak berkenan. Akan mudah terlihat oleh Sang Pemilik pelayanan itu tipikal pelayan yang hanya mau santai saja dalam pelayanan, tipikal pelayan yang mau menang sendiri, tipikal pelayan yang acuh tak acuh, tipikal pelayan yang mau belajar, tipikal pelayan yang mengejar jabatan, tipikal pelayan yang tidak menerima kesalahan diri sendiri, dan tipikal pelayan yang tekun serta setia di dalam pelayanan. Oleh karena itu, perlulah bagi kita untuk kembali menilik pribadi kita masing-masing (tidak perlu sibuk melihat orang lain dan bahkan mencari-cari dengan sengaja kesalahan orang lain) tentang jatidiri kita sebagai seorang pelayan Kristus. Buah Seorang Pelayan yang Sungguh-sungguh Melayani, dapat dilihat dari beberapa hal sebagai berikut:

 

1. Takut akan Tuhan

Fondasi seorang pengikut Kristus adalah takut akan Tuhan. Terlebih lagi kalau mau memahami lebih dalam jatidiri seorang pelayan, harusnya lebih memberikan keteladanan. Memang tidak mudah untuk memiliki hati yang takut akan Tuhan, namun kembali kepada diri kita masing-masing, memahami atau tidak konsekuensi menjadi pengikut atau pelayan Kristus? Takut akan Tuhan dapat diartikan MENDAHULUKAN Tuhan, bukan MENDAHULUI Tuhan. Menemukan kehendak Tuhan, bukan memaksakan kehendak pribadi. Jika pendasaran ini dimengerti, maka untuk menjadi takut akan Tuhan harus memiliki komitmen, interaksi, komunikasi dengan Tuhan secara intens, supaya semakin menyadari ketidaksempurnaan diri kita dan terbuka dengan tujuan yang Tuhan inginkan. Seorang pelayan yang sudah jauh dari doa dan firmanNya bukanlah menunjukkan diri sebagai pelayan yang sejati. Karena kesejatian pelayan akan berdampingan dengan ketekunannya di dalam doa dan firman Tuhan. Kekuatan seorang pelayan adalah doa.
 

2. Rendah Hati

Kerendahan hati adalah karakter pelayan Kristus. Semakin dia memiliki talenta yang luar biasa, semakin dia tidak memperlihatkan itu dengan kesombongan, tetapi mengajarkan kemampuan itu kepada orang lain dengan tekun. Itulah kerendahan hati Kristus dalam melayani manusia. Kristus tidak memperlihatkan kehebatan diriNya, melainkan menunjukkan kuasa Sang Bapa yang mengutusNya. Di dalam pelayananNya pun, Dia mengajarkan kepada banyak orang, sekalipun Dia sudah menguasai tentang Kerajaan Allah, namun Dia berbagi dengan manusia supaya memiliki pengetahuan dan diberi kuasa untuk menaburkan kepada banyak orang. Jangan pernah menganggap rendah talenta pada diri orang lain, karena dari merekalah kita belajar bagaimana memiliki kerendahan hati dalam melayani. Dalam Mazmur 149:4 tertera, “Sebab TUHAN berkenan kepada umat-Nya, Ia memahkotai orang-orang yang rendah hati dengan keselamatan”. Kerendahan hati akan selalu memiliki tempat yang mulia di dalam sebuah pelayanan, dibandingkan keangkuhan diri di hadapan Tuhan dan sesama.


3. Penuh Kasih dalam Kepedulian

Orang yang mengenal Kristus, harus bisa memperkenalkan Kristus kepada banyak orang. Jangan kita katakan bahwa kita mengenal Kristus, namun perilaku Kristus pun tidak terlihat dalam keseharian kita. Cara dan bentuk kasih dan kepedulian kita kepada sesama menunjukkan kasih dan kepedulian kita kepada Kristus. Orang yang peduli belum tentu memiliki kasih, namun orang yang memiliki kasih pasti akan menunjukkan kepeduliannya kepada sesama. Kepedulian adalah buah dari kasih yang kita pahami dari Kristus. Sebagaimana Kristus mengasihi orang-orang berdosa, terpinggirkan, miskin, terbelakang, dan tersingkirkan dari lingkungan sosial, patutlah kita mengikuti jejak langkah pelayanan Kristus. Seperti tertulis, "Maka Ia akan menjawab mereka: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang tidak kamu lakukan untuk salah seorang dari yang paling hina ini, kamu tidak melakukannya juga untuk Aku" (Mat.25:45). Tinggalkanlah jejak-jejak kasih dan kepedulian kita di mana pun kita berada dan kapan pun waktunya. Ingatlah, jangan pernah menuntut akan kasih dan kepedulian kita dari orang yang kita layani.

 

4. Disukai Banyak Orang

Cara hidup jemaat perdana memberikan motivasi yang positif untuk kita di jaman modern ini (Kis.2:41-47). Mereka melakukan kehidupan spiritual bukan hanya urusan saya dengan Tuhan, tetapi juga saya dengan sesama. Setiap orang berusaha untuk menjadi sesama bagi manusia lain, menjadi saudara di tengah persekutuan. Kehidupan persaudaran dalam kasih Kristus bukanlah mimpi belaka, bukanlah kata-kata belaka, melainkan itulah cara mereka hidup di tengah perbedaan (kelebihan dan kekurangan) yang ada di antara mereka. Apa yang Tuhan kerjakan dengan itu semua? Dan mereka disukai semua orang. Dan tiap-tiap hari Tuhan menambah jumlah mereka dengan orang yang diselamatkan (Kis.2:47). Pelayanan yang sungguh-sungguh dilakukan dengan hati yang tulus dan penuh syukur akan diberkati Tuhan dengan cara diri kita disukai oleh banyak orang. Biarkanlah Tuhan yang bekerja di dalam pelayanan yang kita lakukan dengan caraNya.


5. Dewasa Berpikir, Bertutur Kata, dan Berperilaku

Usia bertambah tidak selalu menunjukkan orang tersebut sudah dewasa. Mungkin iya dewasa di dalam pertumbuhan fisik, tapi tidak dewasa di dalam berpikir, bertutur kata dan berperilaku. Selayaknya pelayan-pelayan Kristus, seiring bertambahnya usia, bertambahnya pengalaman, akan mempengaruhi pola hidupnya secara menyeluruh. Pola hidup seperti itu menjadi kesehariannya, bukan beban tapi pola yang sudah terbentuk melalui proses suka dan duka. Selayaknyalah kita melihat kedewasaan seperti apa yang sudah kita alami? Apakah pelayanan saya selama ini sungguh-sungguh menolong saya untuk mengalami perubahan kualitas diri atau sebaliknya, hidup saya sama saja pada waktu saya belum melayani? Itu berarti, kita perlu mengintrospeksi diri kita lebih dalam lagi.


Kiranya Semangat 26 Tahun Dirgahayu GKI Camar (19 April 1993 – 19 April 2019) belum luntur dari diri kita sebagai keluarga besar GKI Camar. Justru momen itulah yang seharusnya membuat kita semakin ingin berbuat lebih baik lagi untuk GKI Camar dan melalui GKI Camar kepada sesama. Momen Dirgahayu mengingatkan kita juga bahwa perjalanan gereja selama 26 tahun sebagai Jemaat yang Dewasa harus terlihat dalam diri para pelayan dan umat Tuhan. Tumbuh bukan sekadar bertumbuh tapi ketika bertumbuh selalu bertujuan untuk berbuah. Apakah kita hanya sekadar bertumbuh terus namun tidak berbuah? Selamat melanjutkan karya Kristus di dalam dan melalui GerejaNya. Tuhan Yesus memberkati persekutuan, pelayanan dan kesaksian kita bersama. Jadilah pelayan yang selalu bertumbuh dan hasilkanlah buah di dalam pelayanan.

Soli Deo Gloria

No votes have been submitted yet.

Author Bio