Life Without Purpose (?)

Kenyamanan (comfort zone) adalah impian bagi setiap orang di dunia ini. Entah itu anak kecil, remaja, pemuda, dewasa bahkan usia lanjut. Banyak orang memiliki keinginan hidup yang berkecekupan bahkan berkelebihan; punya rumah yang memadai, pekerjaan yang mapan, motor atau mobil yang bisa digunakan seharihari, handphone (kalau bisa yang ber-merk), laptop yang canggih, alat elektronik di rumah yang mahal, perabotan rumah tangga yang mahal, pendidikan anak di tempat yang nyaman, bisa membeli makanan yang enak, bisa belanja (shopping) di pusat niaga yang keren, bisa sering jalanjalan ke luar negeri sesering mungkin, punya sopir pribadi, kesehatan yang prima terus, bisa terkenal atau menjadi idola banyak orang, dan masih banyak lagi.

Ketika seseorang sudah berada dalam comfort zone mereka, mereka akan mengalami kesulitan untuk keluar dari zona tersebut. Apabila kita perhatikan lebih dalam, bagaimana seseorang mendapatkan kondisikondisi yang menyenangkan di atas? Jawabannya, uang. Dengan memiliki uang, ia mampu memiliki “berbagai kenyamanan” tersebut. Bukan dengan uang yang sedikit, pastinya melainkan dengan uang yang banyak. Bagaimana caranya? Bekerja dengan giat (meningkatkan karier) dan terus mengarahkan tujuan/orientasi untuk mendapatkan uang sebanyakbanyaknya. Mungkin akan banyak yang dikorbankan untuk mencapai tujuan tersebut, misalnya kurangnya waktu yang berkualitas dengan keluarga, kehadiran ala kadarnya dalam kebaktian-kebaktian (seperti datang setelah kebaktian dimulai dan pulang sebelum kebaktian selesai) dan mungkin saja, pelayanan tidak menjadi prioritas dalam hidupnya apalagi dalam bermasyarakat. Jika ditelusuri lebih dalam, terlihat kehidupan yang “egosentris” dalam hidupnya sehari-hari, artinya fokus hidupnya hanyalah dirinya sendiri (ambisi diri). Namun, sadarilah bahwa waktu itu terbatas dan kita melupakan “sesuatu” yang lebih berharga dalam hidup kita. Sebelum semuanya terlambat, mari kita benahi secara perlahan.

Tujuan kehidupan manusia sebagaimana dirancang Allah ketika Ia menciptakan manusia pada mulanya, adalah: (1) Memuliakan Allah dan menikmati persekutuan dengan-Nya; (2) Berelasi baik dengan sesama; (3) Berkarya; (4) Menjaga dan memelihara dunia ini. Memang betul, di zaman modern ini, manusia lebih memilih hal-hal yang mudah dan cepat (instan) serta kenyamanan hidup. Toh, orang juga akan mengatakan: untuk mencapai itu juga ‘kan perlu perjuangan dan pengorbanan. Dunia sampai saat ini berlomba-lomba untuk menawarkan berbagai macam kemudahan dan kenyamanan dengan berbagai bentuk. Seringkali tanpa disadari, banyak orang berlomba-lomba untuk meraih kenyamanan dengan berbagai cara (usaha), sekalipun cara itu tidak sejalan dengan kehendak Tuhan. Perilaku egosentrisme akhirnya menjadi fenomena kehidupan sehari-hari manusia, sehingga tidak heran hedonisme menjadi life-style bagi manusia. Tidaklah heran jika comfort zone adalah tujuan bagi banyak insani di dunia ini. Dampak dari perilaku demikian adalah saat relasi dengan Tuhan (iman) bukan lagi menjadi prioritas utama dalam hidupnya. Bukan kah kita selalu diingatkan bahwa kita bukan hamba dunia, melainkan hamba Kristus yang telah diselamatkan dan dipanggil untuk tidak menjadi serupa dengan dunia? (baca: Roma 12:2, “Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna”). Pembaharuan budi hanya dapat diperoleh melalui hikmat dari Tuhan, yang tentunya seseorang harus memiliki relasi yang intim dengan Tuhan.

Menurut Friederich Schliermacher (seorang teolog dan filsuf Jerman), pengalaman dengan Allah selalu ditandai dengan munculnya perasaan kasih yang hangat dan spontan (tidak dibuat-buat) dan keterlibatan pribadi secara penuh. Bagaimana mungkin hal itu dapat dialami manusia? Schliermacher menyatakan bahwa pengalaman iman hanya dapat dialami bila manusia mengasihi sesamanya. Pada saat orang Kristen benar-benar mengasihi sesama manusia, orang Kristen akan merasa bahagia dan saat-saat seperti ini tidak lain adalah moments of encountering with God (perasaan bertemu dengan Tuhan) yang kalau disadari akan memberikan feeling of absolute dependency (perasaan ketergantungan mutlak kepada Allah). Dari pemikiran Schliermacher, setidaknya kita perlu bertanya pada diri kita sendiri, apakah kita mengalami perjumpaan dengan Kristus setiap hari? Pertanyaan ini terjawab apabila setiap umat Tuhan memiliki tujuan hidup untuk menyenangkan Tuhan selama hidupnya. Dasar tujuan hidup yang Tuhan kehendaki adalah memuliakan Tuhan dan berbagi hidup dengan sesama. Hampir serupa yang diungkapkan Paulus: “Bersukacitalah dengan orang yang bersukacita, dan menangislah dengan orang yang menangis!” (Rom.12:15); Paulus hendak mengajarkan pola berbagi hidup bersama sesama manusia, bukan berfokus kepada diri sendiri. Implementasinya tentu kembali kepada manusia itu sendiri, di lingkungan mana dia hidup dan seberapa kemampuan yang ia miliki. Paulus membagi kesaksian hidupnya kepada Jemaat Galatia: “namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang ku hidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku” (Gal.2:20). Kesaksian hidup tersebut, akhirnya, mengarahkan tujuan hidupnya adalah seperti yang Tuhan Yesus katakan dan lakukan. Herbert Spencer (Filsuf Inggris) pernah berkata: “Tujuan besar dari pendidikan bukan pengetahuan, tetapi tindakan (aksi)”. Banyak manusia dikaruniakan Tuhan berbagai kepandaian dan kemampuan, namun seringkali pengetahuan yang sebatas teoritis tanpa aksi nyata, atau kepandaian itu hanya untuk dirinya sendiri. Saya teringat nasihat seorang Profesor (dosen yang saya kagumi), yang mengatakan, “mau sepintar apa pun manusia, jika pengetahuan itu tidak dibagikan kepada orang lain, kepintaran itu tidak ada gunanya. Ilmu haruslah dibagikan kepada sebanyak-banyaknya orang”. Nasihat tersebut ternyata gugahan kepada manusia untuk tidak lagi memikirkan dirinya sendiri, tetapi berbagi dengan sesama.

Saya teringat kembali dengan pemikiran Charles de Montesquieu (Filsuf Perancis) yang pernah berkata: “Untuk benar-benar menjadi besar, seseorang harus berdampingan dengan orang lain, bukan di atas orang lain”. Pemikiran memiliki makna bahwa kita di dalam dunia ini hidup berdampingan satu dengan yang lain untuk mengerjakan pekerjaan besar untuk dunia ini. Hal ini sejalan dengan apa yang kita kerjakan dalam pelayanan Gereja. Bukankah kita melayani dengan berdampingan satu sama lain? Tidak ada yang lebih tinggi atau lebih rendah karena yang kita kerjakan adalah pekerjaan Kristus. Namun, seringkali status dunia sekular (jabatan pekerjaan, karena kita memiliki kekayaan) terbawa ke dalam perilaku pelayanan kita (mungkin istilah yang sering dipakai = “nge-boss”, padahal kita adalah doulos = hamba/pelayan). Saat seseorang sudah memandang rendah rekan sepelayanannya, maka ia berada dalam kegagalan pelayanan. Donald A. Adams pernah berkata: “Untuk memberikan pelayanan yang nyata, anda harus menambahkan sesuatu yang tidak bisa dibeli atau diukur dengan uang, dan itu adalah ketulusan dan integritas.” Pemikirannya menyadarkan kita kembali tentang arti ketulusan dan integritas sebagai seorang Kristen dalam hidup pelayanannya. Karena, tidak jarang, kita temui pelayan Gereja belum memiliki ketulusan hati dalam melakukan tugas-tugas dan tidak memiliki integritas diri di dalam perilaku sehari-hari.

Sadarilah, bahwa hidup kita adalah anugerah dari Tuhan. Dikatakan anugerah, karena tidak ada manusia yang meminta untuk dilahirkan ke dunia. Itu berarti bahwa hidup kita berasal dari prakarsa dan karya Tuhan sendiri. Namun, Tuhan punya alasan dan tujuan menghadirkan seseorang di dunia ini, yaitu untuk menyenangkan dan memuliakan nama Tuhan dengan setiap status dan profesi kita masing-masing. Paulus kembali menegaskan identitas dan tujuan hidup manusia: “Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya” (Ef.2:10). Ingatlah selalu, bahwa diri kita di dalam Kristus adalah Imago Dei (citra diri Allah) yang dipanggil untuk tujuan Missio Dei (misi/karya Allah) sepanjang hidup kita. Tampilkan lah citra diri Allah melalui diri kita dan lakukanlah apa yang dikerjakan Allah melalui pekerjaan kita. Dunia tidak akan pernah bisa memberikan kepuasan dalam hidup kita, namun kita akan selalu dipuaskan dengan pekerjaan Tuhan Yesus selama kita hidup sesuai dengan kehendak-Nya. Dunia hanya memberikan kehidupan yang menyenangkan namun berhenti pada kematian, namun di dalam Kristus, kita akan mengalami kehidupan setelah kematian.

Awali lah tahun baru ini untuk membenahi tujuan dan karya kita selama masih diberikan kesempatan hidup oleh Tuhan. Jangan menunggu nanti, tapi lakukan saat ini, karena kita tidak akan pernah tahu sampai kapan kita diperkenankan untuk hidup di dunia ini. Selama masih ada waktu dan kesempatan, pulih kan tujuan hidup kita di keluarga, pulih kan relasi yang rusak dengan sesama, miliki semangat bekerja untuk berkarya bagi dunia, miliki komitmen pelayanan dalam kerendahan hati dan komitmen yang teguh, berkarya lah di mana Tuhan menempatkan kita untuk menyatakan Kebenaran-Nya. Janganlah hidup hanya sekadar hidup, tetapi hidupilah kehidupan ini dengan tujuan Kristus semakin dipermuliakan. Selamat membenahi tujuan hidup kita dalam permohonan kekuatan dari Kristus.

Sumber & Referensi
Charles de Montesquieu
Donald A. Adams
Friederich Schliermacher

No votes have been submitted yet.

Author Bio

Komentar