Esensi Pelayanan

Pembahasan mengenai esensi pelayanan ini, disusun berdasarkan pemahaman iman pribadi tentang pelayanan, yang seyogyanya dipahami dan dapat dilakukan oleh setiap orang percaya, yang disebut Kristen.

Kita disebut orang Kristen, karena kita adalah pengikut Kristus, artinya kita telah menerima pengajaran dari Tuhan Yesus Kristus, kemudian kita percaya kepadaNya dan kita menerimaNya sebagai Juruselamat hidup kita. Artinya, kita tahu siapa Kristus bagi kita. Dan sebagai orang Kristen yang benar, seharusnya, kita punya komitmen untuk hidup bagi Dia, dan bahwa kita hanya mau beribadah kepada Allah melalui Tuhan Yesus Kristus dengan pimpinan Roh KudusNya.

Ketika kita berIbadah atau dalam kebaktian, kita melakukan kegiatan membawa persembahan dan menyatakan sikap penyembahan kepada Tuhan. Persembahannya dalam bentuk materi atau lagu-lagu pujian, serta juga sikap-sikap penyembahan, sebagai wujud hormat dan kasih kita kepada Tuhan.

Proses kegiatan persembahan dan penyembahan itulah, yang sesungguhnya, merupakan pelayanan kita kepada Allah, dan ada berkat Tuhan  yang dirasakan dan diterima juga oleh umat, sesama kita yang sedang beribadah bersama. Jadi ibadah dan pelayanan adalah sesuatu yang tidak dapat dipisahkan.

Tepatlah, kiranya, bila Ibadah atau Kebaktian Minggu, dalam Bahasa Inggrisnya disebut “Sunday Service”. Ada kata “Service” yang berasal dari akar kata “to serve”(=melayani). Kata service ini juga digunakan untuk menterjemahkan kata “Leitorurgia” (liturgi) dalam Bahasa Yunani, yang mengandung makna system ibadah yang biasa digunakan  dalam tradisi Kristen.

Tentang ibadah yang benar, rasul Paulus, dalam suratnya kepada Jemaat di Roma menuliskan: demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati. (Roma 12:1). Disini ditegaskan, bahwa ibadah atau pelayanan yang sejati, yang Tuhan kehendaki, adalah bila kita mempersembahkan keseluruhan hidup kita.

 

1. ESENSI PELAYANAN YANG BENAR.

Untuk dapat memahami esensi pelayanan, kita harus tahu bahwa dalam melayani ada sikap yang diteladankan oleh Yesus Kristusa. “Karena Anak Manusia juga datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawaNya menjadi tebusan bagi banyak orang”.(Markus 10:45)

Pernyataan ini jelas, sebagai sikap pelayanan Yesus bagi umat manusia, sebagai acuan  kita dalam menjalankan misi sebagai saksi Kristus. Yesus ingin umatNya setia melayani dan ikut teladanNya: “Barang siapa melayani Aku, ia harus mengikut Aku dan dimana Aku berada, di situpun pelayanKu akan berada. Barang siapa melayani Aku, ia akan dihormati Bapa. (Yohanes 12:26)

Pelayanan yang benar, adalah bila dilakukan berdasarkan kasih, karena Allah adalah kasih,  Ia telah terlebih dulu mengasihi kita, maka kitapun wajib mengasihiNya.

Hukum Kasih yang benar dan yang paling utama, adalah: “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu. Hukum yang kedua ialah: kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. (Markus 12:30-31).  

Dalam melakukan pelayanan, Allah menuntut adanya kasih yang total dari kita. Ikut teladan Kristus, bukan berarti kita sama seperti Kristus, yang tidak berdosa. Kita masih manusia yang berdosa dengan segala kelemahannya, tetapi Tuhan Yesus telah menebus dosa kita, dan kita sudah diubahkan, mendapat kehidupan baru.

Sekarang, kita boleh belajar melayani dengan prinsip-prinsip yang terdapat dalam pikiran dan perasaan Kristus, seperti yang dituliskan rasul Paulus kepada jemaat yang di Filipi, Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus, yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri , dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati,  bahkan sampai mati di kayu salib. (Filipi 2: 2-5)

Dari surat Paulus diatas, kita dapat menangkap pikiran dan perasaan Kristus Yesus, yang perlu diterapkan sebagai sikap kita, ketika menyambut dan melakukan panggilan tugas pelayanan, yaitu:

  1. Terbuka dan tulus menerima tugas pelayanan, tidak mempertahankan status.
  2. Tidak berdalih dengan berbagai alasan (mengosongkan diri)
  3. Bersedia menghamba dan bersetara dengan pihak yang dilayani
  4. Merendahkan diri dengan kasih, tanpa pamrih.
  5. Mau berkorban bila diperlukan.

Seorang hamba Tuhan, yang berbicara tentang pelayanan, pernah mendefinisikan: pelayanan kepada Tuhan adalah semua tindakan, baik yang dipikirkan, diucapkan dan dilakukan, selalu sesuai dengan pikiran dan perasaan Allah.

Ketika kita melakukan pelayanan, yang kita imani sebagai kehendak Tuhan yang benar, percayalah, bahwa itu sesuai dengan pikiran dan perasaan Tuhan, yang akan dimuliakan. Lakukanlah pelayanan kita dengan tidak bimbang dan ragu akan hasilnya, karena Tuhan akan turut bekerja didalamnya dan mendatangkan kebaikan.

Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil   sesuai dengan rencana  Allah (Roma 8:28)

 

2. PENUGASAN UNTUK MELAYANI

Sebagai jemaat gereja Tuhan, tentunya, kita pernah mendengar adanya tri tugas gereja, yang harus diketahui dan dilaksanakan oleh gereja Tuhan, yaitu:

  1. Koinonia (bersekutu), persekutuan umat yang saling berbagi dan mengasihi
  2. Marturia (bersaksi), bersaksi tentang karya penyelamatan Allah bagi umat manusia.
  3. Diakonia (melayani), saling melayani dan memberi teladan diantara umat yang datang mencari Allah

Tritugas gereja itu, pada dasarnya terkait satu dengan yang lainnya, tetapi ada satu tugas yang menekankan pentingnya pelayanan harus dilakukan oleh gereja, yaitu Diakonia.

Diakonia adalah tindakan nyata pelayanan gereja dalam bentuk sikap dan perbuatan yang saling melayani. Bila tugas Diakonia terwujud dngan baik, maka kedua tugas lainnya, Persekutuan dan Kesaksian, akan terdukung dan terwujud dengan lebih baik.

Fungsi Kesaksian dan Pelayanan di GKI, dalam Tata Gereja, pada bagian Tata Dasar, pasal 6, dijabarkan lagi, menjadi:

  1. Gereja melaksanakan kesaksian dan pelayanan dalam masyarakat melalui kata dan perbuatan
  2. Kesaksian dan pelayanan dilaksanakan secara pribadi dan bersama-sama
  3. Kesaksian dan pelayanan itu dilaksanakan juga dalam kerja kemitraan dengan gereja-gereja lain, pemerintah dan masyarakat.

Sudah jelas, bahwa Tuhan berkehendak agar kita melayani. Tugas pelayanan, juga sudah digariskan oleh gereja, kini, ditunggu sikap, kemauan dan kesediaan kita untuk melaksanakannya. 

Sebagai orang Kristen, sesungguhnya, kita tahu adanya panggilan tugas pelayanan, namun belum semuanya menghayati, dan belum semua siap untuk melaksanakannya dengan sungguh hati. Kecendrungan kondisi ini, adalah karena kurangnya pemahaman akan Firman Tuhan dan pengenalan akan Allah dan Tuhan Yesus Kristus, atau karena kurangnya kedewasaan iman mereka sebagai murid Kristus yang harus melakukan tugas panggilanNya. Kita masih perlu pembinaan iman yang lebih intensif dan membudayakan jiwa pelayanan dalam hidup setiap orang percaya.

Melayani Tuhan tidak  terbatas pada aktifitas gerejawi, namun juga, harus nampak dalam segala segi kehidupan sebagai seorang pengikut Kristus yang bersaksi di dunia ini, mulai dari lingkungan keluarga, kegiatan kerja, profesi, sampai ke dalam pergaulan dengan masyarakat sehari-hari, baik pada saat kita sendiri maupun sebagai kelompok.

Tuhan tidak meminta pelayanan, karena kemampuan atau profesionalisme kita, tetapi karena  kemauan dan kesediaan kita yang tulus dalam kesadaran iman kita yang benar.

Tuhan yang akan menyempurnakan dan menguduskan hasil kerja kita, demi kemuliaan namaNya.

 

3. PENUTUP

ila kita telah menyadari seluruh penjelasan tentang panggilan pelayanan ini, maka tidak ada dalih yang perlu kita ajukan, pada saat kita diminta untuk melaksanakan tugas pelayanan sebagai orang Kristen. Kita orang percaya yang berkomitmen,  berani konsekuen menyambut setiap panggilan Tuhan dengan iman.

Ingat: “Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan!  Akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga,  melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga” (Matius 7:21).

Ketahuilah: “Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit, Karena itu mintalah kepada Tuan yang empunya tuaian, supaya ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu”. (Lukas 10:2)

Kita adalah pekerja-pekerja itu, yang Tuhan mau panggil untuk melayaniNya dan menjadi saksiNya. Gerejapun sudah mengarahkan misi dan visi serta program kegiatannya,  tinggal kita ambil bagian, berperan dengan manfaatkan kesempatan yang ditawarkan.  

Kesempatan tidak akan datang dua kali dan Tuhan Yesus mengingatkan: “Karena itu, berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu akan hari maupun akan saatNya. (Matius 25:13)

Mari kita dengan sukacita menjalankan dan mengembangkan jiwa pelayanan kita, agar Tuhan kita dimuliakan.

Sumber & Referensi
Alfred I. Setiadi, Ketua Bidang PO, GKI Camar periode 2019-2020

No votes have been submitted yet.

Author Bio